Bukan karena bingung akku mau nulis appa,, tapi pas buka kaskus [lagi....] dan mbuka artikel ini,, mendadak semua yang mau tak tulis jadi ngeBLank..hehehehe
critanya Lucu..., appik pisan..
*cOpas [Lagi..] dari kaskus..., tapi tanpa judul...*
Saat aku menghampirinya, dia memberiku surat sambil berkata
“Sebelum kamu melaksanakan tugasmu sebagai suami di malam pertama kita, aku mau kamu membaca surat ini, aku ingin mulai malam ini dengan tidak ada rahasia antara kta”
“Maksudmu” aku bertanya dengan bingung
Aku mengambilnya dan segera membukanya, hatiku bertanya2 apa yang ditulisnya, apa dia membenciku karena aku hendak mengusirnya dari rumah ini. aduh aku jadi ngerasa bersalah gini.
“Riki, itu adalah isi hati aku, yang slama ini mungkin engkau gak tau” Rika mengatakankannya sambil tersenyum, terkesan bahwa dia sangat malu untuk jujur padaku
Aku sendri bertanya-tanya apa maksudnya semua ini, malam pertama kami malah disuruh baca surat, mana amplopnya warna merah, kok seperti angpao yah ??
“Sebelum kamu melaksanakan tugasmu sebagai suami di malam pertama kita, aku mau kamu membaca surat ini, aku ingin mulai malam ini dengan tidak ada rahasia antara kta”
“Maksudmu” aku bertanya dengan bingung
Aku mengambilnya dan segera membukanya, hatiku bertanya2 apa yang ditulisnya, apa dia membenciku karena aku hendak mengusirnya dari rumah ini. aduh aku jadi ngerasa bersalah gini.
“Riki, itu adalah isi hati aku, yang slama ini mungkin engkau gak tau” Rika mengatakankannya sambil tersenyum, terkesan bahwa dia sangat malu untuk jujur padaku
Aku sendri bertanya-tanya apa maksudnya semua ini, malam pertama kami malah disuruh baca surat, mana amplopnya warna merah, kok seperti angpao yah ??
“ok deh aku mulai baca yah” kataku
Untuk,
Riki Malaikatku
Assalamualaikum Wr. Wb. Duhai Habib
Alhamdulillah, aku bersyukur kepadaMu Ya Allah karena engkau pada hari ini telah menyatukan aku dengan Kekasihku yang laksana malaikatku, aku juga bershalawat dan salam ke hadirat Rasulmu, Muhammad SAW, yang telah menghantarkanku ke Agamamu yang Selamat ini Ya Allah. Beserta istri-istri dan sahabat-sahabat Beliau.
Dengan nama Allah aku Menggungkapkan isi hatiku, Duhai Habibku..
Sejujurnya aku tak pernah mau mengatakan hal ini, tapi pertama kali kau memelukku saat kau melarikan aku pada kerusuhan 10 tahun yang lalu, aku merasakan kehangatan seseorang yang menyayangiku yg belum pernah aku rasakan dari keluargaku sendri. Aku pun berjanji dalam hati bahwa aku nggak akan mau kehilangan orang ini. Tapi saat kau membawaku ke rumahmu aku malah berpikiran bahwa kau akan berbuat macam2 kepadaku, maafkan aku karena telah berprasangka demikian. Makanya aku langsung menggurung diri dikamar ortu mu. Tapi kamu menungguku dengan sabar dan menyakinkan aku untuk menyayangi diriku sendri. Aku gak pernah percaya ada orang sebaikmu, ku pikir mungkin hanya malaikat lah yang seperti ini. Orang tuaku saja tak pernah sabar menghadapiku mereka malah memukulku, saudara2 lelakiku selalu melecehkan aku. Saat itulah terlintas dihatiku bahwa aku akan mendampingi orang ini selamanya.
Seiring waktu berjalan aku semakin sayang padamu, tindakan sayang ku pun merubah diriku untuk selalu memperhatikanmu dengan sepenuh hatiku, aku selalu tersenyum untukmu, aku belajar memasak untuk membuatmu memuji masakanku, aku berpakaian yang indah walau itu baju2 ibumu agar kamu mengatakan aku cantik, aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku nggak mau kehilangan malaikatku ini, aku mau mendampinginya slalu, aku ingin dia selalu berbahagia, karena alangkah indah kalau bisa selalu menikmati hari-hari ceria bersamanya.
Tapi perasaan itu pun berubah saat aku melihat engkau memperkenalkan pacarmu kepadaku, hatiku marah, berang, kecewa, sedih, cemburu, iri, kehilangan, dendam, ah apalah aku juga nggak tau perasaan ku saat itu, aku terus bertanya pada diriku,,apa salahku? kenapa engkau mau mencampakkan aku ke jalanan lagi, setelah 10 tahun engkau menjagaku, memberiku kasih sayang yang nggak pernah aku rasakan sebelumnya. Hatiku trus bersedih sampai aku harus tersenyum didepanmu sambil meneteskan air mata, lalu kau bertanya kenapa?, aku hanya bisa menjawab nggak papa kok, Cuma baru nonton sinetron aja.
Dendamku membuat aku mengajak temen lelakiku ke rumah, aku suruh dia berpura-pura menjadi pacarku. Tapi itu sama sekali nggak membuat kamu cemburu. Engkau malah keliatan senang karena aku telah mempunyai pacar yang akan mendampingi aku nantinya. Engkau pun menanyakan pertanyaan2 berkenaan tentang komitmen kepada pacarku, tuk menikahi aku, yang sudah pasti sulit dijawab oleh temenku. Tapi dia tetep menjawabnya demi meyakinkanmu. Saat itu aku makin membencimu. Kenapa engkau tidak menginginkanku?, apa masakanku kurang enak?, apa tubuhku tidak menarik dimatamu?, apa aku tidak memperhatikan dirimu?, apa engkau dendam padaku ketika aku pukul kamu saat pertemuan kita pertama kali 10 tahun lalu? Apa engkau nggak mau lagi melihat aku mengotori rumah orang tuamu ini? Ada berjuta pertanyaan di sanubariku. Sampai2 aku meneteskan air mata, mungkin engkau sudah tau kebohonganku ini. Tapi engkau malah menikmatinya.
Riki, malaikatku bagaimana aku harus mengatakan betapa aku mencintaimu, menyayangimu dengan sepenuh hatiku dan segenap jiwa ragaku?
Hatiku makin hancur saat malam itu kamu memanggilku setelah perayaan kelulusan SMAku, engkau mengajak aku bicara layaknya 2 orang dewasa yang akan menentukan hidup. Engkau mengatakan bahwa engkau akan menikahi pacarmu, serta aku juga harus menikah dan pindah dari rumah ini karena kita nggak mungkin lagi tinggal bersama, kita bukan kakak adik, bukan juga ayah anak, bukan pula paman dan keponakan. Engkau menyuruhku menemui pacarku dan minta agar segera menikahiku. Padahal dalam hatiku engkau adalah segalanya bagiku, engkau adalah malaikatku, ayahku, ibuku, kakakku, bahkan suamiku. Aku ingin selalu bersamamu Riki. Aku gak tau bagaimana ungkapin perasaan ini tapi aku nggak mao kehilangan kamu.
Saat itu lah kenapa aku langsung memelukmu dan mengatakan isi hatiku bahwa aku nggak mau kehilangan kamu. Aku gak pernah bisa berkata2 sesuai dengan yang dikatakan hatiku, tapi kali ini harus, karena aku gak mau kehilangan kamu, malaikatku yang telah menolongku, menyelamatkanku dari terlunta-lunta di jalanan karena kehilangan keluarga, aku gak mau kehilangan malaikatku yang telah mengasuhku, membimbingku layaknya seorang ayah, menyayangiku layaknya seorang ibu, mendampingiku saat tertimpa masalah layaknya seorang kakak..
Tapi pengakuanku malah engkau anggap aneh, bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang yang menjagaku, bagaimana mungkin engkau mencintai aku, sedangkan kita terpaut jauh umurnya. Bagaimana mungkin engkau mencintaiku, apa engkau tidak malu dengan temen2mu menikah dengan orang yang menjagamu selama ini. Apa yang akan dikatakan tetangga2 kita nantinya.
Entah apa yang membuatku menjadi dewasa pada saat itu, tapi aku gak mau kalah pada moment ini aku harus meyakinkanmu Riki, bahwa aku adalah wanita yang pantas untukmu, aku telah dewasa, aku mengerti dengan baik sapa dirimu, bagaimana sifatmu, saat engkau lelah, sedih, kesal, gembira, aku juga berjanji akan menjadi wanita yang dewasa dalam menghadapi hidup ini. Aku akan kuat menanggung apa pun masalah yang akan kita hadapi nantinya berkat ilmu sabar dan ikhlas yang selalu engkau ajarkan. Aku akan menjadi apapun yang engkau minta, aku akan berikan seluruh perhatianku untukmu, karena engkau adalah malaikatku.
Riki malaikatku, Trima kasih karena telah menjadikan aku istrimu.
Dari Rika,
Wanita yg paling bruntung mendapatkanmu
Aku pun tersenyum kearah Rika, tapi aku mengubah ekspresiku, sambil bertanya
“memelukmu pertama kali?! perasaan seingatku aku hanya memanggul karung beras deh!” candaku
“jahat !!!aku dibilang karung beras” dia merajuk sambil memukul-mukul bahuku dengan ringan, dan akhirnya mencubit perutku
“Aduh, cubitanmu makin pedas aja neh, awas ya” aku ingin langsung memeluknya, eh malah dia menghindar ke tepi ranjang, saat aku ingin meraihnya, dia malah lari, lalu kami pun kejar-kejaran di kamar tidur yang tadinya milik ortuku itu, bagaikan sepasang anak kecil yang sedang bermain dengan senangnya. Walau akhirnya kami kembali menghempaskan tubuh kami ke tempat tidur ini lagi karena kecapekan. saling memandang dengan senyum yang selalu terlukis di wajah kami, bertanda kedua belah pihak merasa sangat bahagia. Aku trus memandangi wajahnya.
Aku sama sekali nggak nyangka kalau anak kecil yang aku tolong 10 tahun lalu, akhirnya jadi istriku, ternyata kebersamaan selama 10 tahun, mengubahnya menjadi seorang wanita dewasa yang bertubuh remaja, aku telah merasakan pelukan kehangatan tubuh kecilnya saat pertama kali di berinisiatif memelukku tuk meredakan kesedihan dan kepedihanku kehilangan kedua orang tuaku. Disitu aku merasakan didalam tubuh kecil ini terdapat seorang wanita dewasa yang mandiri dan sangat menyayangi serta memperhatikan orang2 sekelilingnya. Dalam hal ini adalah aku.
Rikaku bidadariku, bidadariku yang mulainya hanya aku anggap sebagai adikku tapi sekarang telah menjadi istriku. Tapi sangat lah sulit bagi aku tuk mengubah perasaan ini, aku sangat takut menyakitimu Rika, entah dari mana perasaan lembut ini tercipta tapi, saat pertama kali engkau meneteskan air mata dan saat itu aku berjanji tuk menjagamu, aku nggak mau buat kamu terluka lagi, sekiranya telah cukup aku melihat luka di punggungmu waktu engkau berumur 8 tahun. Tapi aku takut melukaimu Rika.
“Riki apa yang engkau tunggu? Perlakukan aku layaknya seorang istri, aku istrimu skarang, bukan adikmu lagi , aku bukan anak kecil yang engkau temukan 10 tahun yang lalu, karena aku istrimu.”
Aku pun berubah posisi dan mencoba menciumnya, tapi saat bibir kami bersatu, aku tetep merasa aneh, perasaan Rika adalah adikku selalu trus menghantuiku, aku takut sekali tuk menyakitinya, aku sangat menyayanginya, aku tak ingin melihat air matanya lagi. Aku hanya ingin melihat senyum dan tawanya yang membahagiakan aku. Aku pun memeluknya dan mengangkat tubuhnya hingga kami dalam posisi duduk berhadapan. Aku trus memeluknya, dada kami bersatu berbeda dengan 10 tahun lalu. Dadanya kini menonjol dan terasa lebih nyaman ketimbang dada anak kecil yang memelukku 10 tahun yang lalu saat dia meredakan kesedihan ku karena kehilangan ortuku. Lalu tiba-tiba Rika merenggangkan pelukan kami tangannya yang memeluk punggungku bergerak menuju ke wajahku. Kedua tangannya memegang pipiku lalu dia berkata
“riki malaikatku, sampai kapan engkau akan menganggap aku adikmu?” Rika berkata sambil meneteskan air mata
Ternyata dia sedih jika aku trus begini, aku menyakitinya lagi, tapi bagaimana, aku sulit tuk mengubah perasaanku, 10 tahun aku menjagamu, bersamamu, bersendagurau layaknya adik-kakak, mengantarkan mu ketempat tidur, mematikan lampu kamarmu, lalu kini aku malah menidurimu, dan adalah kewajibanku sebagai seorang suami. Aku harus bagaimana mengubah perasaan ini?
Lalu Rika menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya pas didepan mataku. Hanya beberapa senti saja dari mataku. Hal itu membuat aku hatiku berdetak keras, aku kan udah berjanji tidak akan menyakitinya itu brarti aku harus membeRikan yang terbaik untuknya. Lalu aku pun berinisiatif
“Rika, aku suamimu kan?” tanyaku sambil tersenyum seperti layaknya orang merencanakan sesuatu
Rika hanya mengangguk dan terlihat kebingungan kenapa bertanya seperti itu, udah jelas tadi pagi kami akad nikah di mesjid disaksikan banyak orang.walau mereka juga merasa aneh karena keputusan ini.
“dan engkau adalah istriku kan ? tanyaku lagi sambil tersenyum seperti layaknya orang merencanakan sesuatu
Rika juga hanya mengangguk dan kelihatannya tambah kebingungan.
“kewajiban seorang istrinya kan melayani suaminya kan??” pintaku
Dia hanya tersenyum kegirangan dan mencubit perutku yg menjadi kebiasaannya. Aku menarik pita yang mengikat rambutnya, membuat rambut lurus panjang tergerai sebahu. Aku pun menutup mataku dengan pita rambutnya, aku mencium wangi harum rambut yg tergerai melalui pita rambutnya. Dari dulu aku memimpikan wanita berkulit kuning bersih, dengan rambut hitam panjang tergerai. Untuk jadi kekasihku. Dan pacarku yang dahulu juga mirip seperti Rika, bertubuh ramping proposional, berambut panjang lurus tergerai sebahu. Hanya saja kami hanya terpaut usia 2 tahun. Tapi Rika dan aku 10 tahun. Dan menurutku tingkat kedewasaan mereka berpikir juga sama, keunggulan Rika justru dia sangat muda, dan tentunya dia kalah mandiri ketimbang pacarku, skarang sudah jadi mantan tentunya. Aku memilih Rika, Santi pasti dapat menerimanya karena dia wanita yang mandiri, baik kepribadian maupun financial.
Ternyata Rika sudah mulai agresif, memang dari dulu aku suka dengan inisiatif Rika, saat bangun lebih awal dariku tuk membersihkan rumah, mempersiapkan sarapan. Aku dibuat takjub saat dia memasak masakan yang sama sekali belum pernah aku ajarkan ke dia. Masakan itu bisa dijumpai di rumah-rumah makan dan ribet masaknya, tapi Rika bisa memasaknya tepat di depan mataku. Rika ternyata Allah menghadirkan kamu hanya untuk menemaniku, seandainya saja aku nggak menolongmu. Mungkin aku tak akan sebahagia ini selama sepuluh tahun setelah ditinggal ortu.
Trima kasih Ya Allah, Engkau adalah perencana yang paling baik. Dan yakinkan kepadaku Ya Allah ini baru mulai saja. Kedepannya yang aku rasakan hanyalah kebahagiaan dan kebahagian. Bersama bidadariku, Rika. 

0 comments:
Posting Komentar